SSdK

Strategi Sukses di Kampus

Bekerja Dalam Tim

kerja-sama tim

Team Building

oleh Hegar Pramastya

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam kehidupannya, hampir tidak ada yang dapat dilakukan oleh manusia secara sendirian. Mereka akan senantiasa membutuhkan peran dari yang lainnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika hampir semua pekerjaan yang dilakukan selalu melibatkan sekelompok orang yang bekerja secara bersama dengan tujuan yang sama. Sekelompok orang yang bekerja secara bersama untuk maksud tertentu inilah yang disebut sebagai tim.

Bekerja dalam tim akan meringankan beban yang harus dipikul. Namun perlu diingat bahwa hal ini dapat dicapai jika tim tersebut benar-benar efektif. Tim yang efektif dicirikan oleh tujuan (goal) bersama yang jelas dan dipahami oleh paradigma yang sama dari setiap anggota tim. Semua anggota akan merasa terdorong untuk mencapai tujuan tersebut dan menempatkan prioritas tim lebih tinggi dibandingkan dengan prioritas masing-masing. Dengan pemahaman yang sama tentang goal yang ingin dicapai, semua anggota tim dapat bersinergi sehingga pekerjaan yang beratpun akan terasa lebih ringan.

Secara sederhana, kunci dalam membangun dan mengelola tim itu adalah komunikasi dan rasa saling percaya dalam tim tersebut. Orang-orang yang berada di dalam tim dengan penempatan sesuai dengan skil masing-masing merupakan potensi besar bagi tim. Namun, tanpa komunikasi serta rasa saling percaya, potensi tersebut tidak mampu berkontribusi untuk kemajuan tim.

Komunikasi serta rasa saling percaya saling berkaitan. Komunikasi yang baik dibangun di atas rasa saling mengerti dan memahami antar anggota tim, termasuk di dalamnya pemimpin tim. Rasa saling mengerti dan memahami ini dapat muncul ketika satu sama lain mengenal sifat ataupun karakter masing-masing. Secara naluriah, manusia adalah makhluk yang senantiasa ingin dipahami dan dimengerti. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk memahami setiap diri dalam tim. Mungkin, dapat dimulai dari sharing tentang keluarga, kesukaan, hobby, hingga hal-hal yang lebih dalam. Ketika sudah muncul rasa saling mengerti dan memahami, semua orang dalam tim akan saling percaya.

Rasa saling percaya sangat dibutuhkan saat bekerja dalam tim. Rasa percaya ini akan menumbuhkan komitmen untuk bekerja dalam tim. Ketika seorang pemimpin tidak menaruh rasa percaya kepada anggotanya, dia akan ragu-ragu dalam memberikan suatu tugas ataupun tanggungjawab kepada anggotanya. Anggota tim dapat menangkap pesan keraguan tersebut dari pemimpinnya. Hal ini dapat menibulkan distrust (ketidak percayaan) terhadap pemimpin mereka dan terhadap diri mereka sendiri. Respon yang muncul kemudian adalah mereka tidak seratus persen berkomitmen dengan tugas ataupun tanggungjawab yang diberikan oleh pemimpin tim.

Rasa saling percaya juga akan memberikan kenyamanan untuk saling bertukar pikiran dan berbagi ketika terdapat permasalahan yang timbul, baik permasalah pribadi maupun permasalah tim. Keterbukaan inilah yang kemudian memudahkan seorang pemimpin ataupun anggota tim untuk mampu mendefinisikan problem ketika terjadi krisis yang harus dihadapi.

Terlepas dari komunikasi dan rasa saling percaya, penghargaan merupakan hal yang mendukung dalam keberjalanan tim. Manusia senantiasa ingin dihargai. Dalam bukunya yang telah diterjemahkan dan berjudul “Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain”, Dale Carnegie mengungkapkan bahwa rahasia besar dalam berurusan dengan manusia adalah penghargaan. Oleh karena itu, hargailah semua pekerjaan ataupun tugas yang telah dilakukan dengan baik oleh setiap anggota tim. Kadangkala, penghargaan itu tidak harus berupa uang, namun dapat juga berupa perhatian kita terhadap mereka seperti pemberian ucapan selamat, dan mungkin memberikan tanggungjawab yang lebih besar.

Akhirnya, semua hal yang ada dalam tim pasti membutuhkan seorang pemimpin untuk memandu mereka. Pemimpin yang baik harus mampu menempatkan dirinya dalam situasi apapun. Ketika tim berada dalam kondisi dan situasi yang menguntungkan, pemimpin harus mampu untuk senantiasa menghargai anggotanya dan mendorong mereka untuk bekerja lebih baik guna mencapai tujuan bersama. Saat tim berada dalam keterpurukan, pemimpin harus mampu untuk memotivasi anggotanya dan menginisiasi tim untuk berpikir bersama mencari solusi bersama untuk keluar dari keterpurukan. Namun hal ini tidak serta merta menjadikan pemimpin sebagai tumpuan. Pemimpin tidak perlu menjadi orang yang paling tahu, tapi pemimpin tim harus menjadi orang yang pertama kali bangkit ketika terpuruk dan menghimpun semua anggota tim untuk memikirkan jalan keluar. Tentunya, tim tidak hanya ditentukan oleh seorang yang dalam tim, seperti ketua tim, namun oleh akumulasi orang yang berada dalam tim tersebut.

Penulis adalah mahasiswa program profesi Apoteker Sekolah Farmasi ITB

VN:F [1.6.2_892]
Rating: 7.3/10 (11 votes cast)
VN:F [1.6.2_892]
Rating: +6 (from 10 votes)
Tagged as:

Leave a Response