SSdK

Strategi Sukses di Kampus

Bergerak atau Mati!

oleh Monika Pury Oktora

Move or Die!

Move or Die!

Pernah merasa termenung seorang diri dengan pikiran melayang kemana-mana tanpa melakukan pekerjaan apapun? Terasa dunia begitu hampa dan sunyi, kemudian pikiran melayang pada bayang-bayang masa lalu yang kelam, terlintas pula gambaran masa depan yang terasa sulit dan belum pasti, sehingga diri begitu tenggelam dalam kesedihan dan rasa ketidakberdayaan? Berhati-hatilah, mungkin pada saat itu virus bernama “kematian” tengah melanda Anda. Kematian dari keproduktivitasan Anda. Orang yang hanya diam tanpa produktivitas sama halnya seperti mayat hidup.

Mengapa kita harus bergerak?

Ada sebuah cerita, seorang pendaki gunung sedang terperangkap dalam badai salju, ia terpisah dari rombongannya, sementara cuaca semakin tidak bersahabat. Ia merasakan tamparan udara dingin makin menyesakkan dadanya, kakinya dan badannya mulai merasa beku, dan ia merasa tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan hingga puncak gunung guna menyusul kawan-kawannya.  Pada saat itu, ia merasa putus asa dan tidak ingin bergerak, rasanya ia hanya bisa diam untuk menunggu ajal menjemputnya. Namun, saat itu logikanya masih dapat berjalan, badannya mungkin memintanya untuk menyerah tetapi semangatnya menggerakannya untuk tetap berjalan. Ia menyadari ia akan mati jika ia tidak bergerak, dengan bergerak ia dapat menjaga suhu tubuhnya terjaga, paling tidak sampai ia dapat menemukan teman-temannya. Sekitar 2 jam berjalan, ia ditemukan oleh tim SAR dan dapat segera diselamatkan.

Apa yang bisa dimaknai dari cerita di atas? Ya, bergerak, untuk bertahan hidup.

Bergerak merupakan simbol kehidupan. Namun, terkadang kita lupa untuk bergerak. Dalam sehari, kadang waktu terbuang percuma karena lamunan dan pekerjaan sia-sia  (terutama di saat-saat lenggang, waktu luang, dan liburan).  Ketika kita termenung dan pikiran kosong, saat itulah setan menari-nari dalam kepala kita, membisikan pikiran negatif pada telinga kita. Sehingga yang ada adalah perasaan sedih dan hari akan berlalu dengan percuma.

Aidh Al-Qarni dalam bukunya La Tahzan bertutur mengenai kesia-sian dalam menghadapi hari. Jika datang pagi, maka janganlah menunggu tibanya sore. Anda hidup pada hari ini, bukan hari kemarin yang berlalu dengan segala kebaikan dan kejelekannya, dan bukan pula hari esok yang belum tentu datang. Hari ini dengan mataharinya yang menyinari Anda, adalah hari Anda. Bayangkan umur Anda hanya sehari, karena itu anggaplah rentang kehidupan Anda adalah hari ini juga, seakan-akan Anda dilahirkan pada hari ini dan akan mati pada hari ini juga. Saat itulah Anda hidup!

Jangan terikat pada gumpalan masa lalu dengan segala keresahannya. Jangan pula terikat pada ketidakpastian yang belum terjadi. Hanya untuk hari ini sajalah Anda mencurahkan perhatian, kepedulian, dan kerja keras. Seperti layaknya pepatah yang mengatakan beribadahlah layaknya engkau hanya hidup hari ini dan menuntut ilmulah layaknya engkau hidup selamanya. Kedua tindakan tersebut menyiratkan suatu pergerakan tiada henti.

Memang mungkin mengawali suatu gerakan memang dapat menjadi sesuatu yang sulit. Akan tetapi coba kita melangkah walaupun hanya satu langkah. Langkah kecil inilah yang nanti akan menuntun kita kedalam suatu perubahan. Janganlah kita tidak terjebak dalam kehidupan yang datar atau statis. Teruslah melangkah dan bergerak. Demi hidup! Dan demi perubahan yang lebih baik!

Winners take action, they simply get up and do what has to be done (Jack Canfield, penulis Chicken Soup for the Soul)

Penulis adalah mahasiswa Farmasi Klinik dan Komunitas

VN:F [1.6.2_892]
Rating: 8.7/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.2_892]
Rating: +7 (from 7 votes)
Tagged as: ,

Leave a Response